Melupakan atau mengikhlaskan?

Dalam beberapa kisah cinta tak selalu berakhir bahagia. Untuk mencapai ikatan yang halal tak sedikit yang melewati banyak lika-liku percintaan.

Ada sebagian yang melewatinya dengan menjalin hubungan “pacaran” dengan satu pasangan saja sampai menikah. Ada juga yang bergonta-ganti pasangan sampai menemukan jodoh yang tepat.

Namun drama cinta memang sangat beragam. Ceritanya pun tak pernah habis dimakan waktu. Selalu ada kisah baru maupun klasik yang terulang kembali.

Satu dari sekian banyak masalah yang terjadi dalam percintaan adalah perasaan yang masih tersisa saat hubungan telah terpisah. Mungkin ada sebagian yang merasakan, bahkan anehnya menghapus jejak rasa untuk seseorang yang tak pernah ada hubungan sama sekali pun ternyata sulit. Bagi sebagian orang tentunya.

Mungkin berbagai cara telah dilakukan agar perasaan yang ada segera hilang. Kenangan yang tersimpan lekas lenyap. Hingga lupa akan perasaan yang pernah ada untuknya. Seseorang yang pernah menjadi sumber bahagia dan tawa.

Lantas apakah usaha itu berhasil?

Bagaimana jika tidak?

Berusaha keras melupakan tak ubahnya menjadikan hati semakin mengingatnya. Meski tanpa sadar memikirkan. Meski sekejap terbayang saat ada ruang kosong dipikiran.

Dan mungkin cara terbaik selain melupakan adalah mengikhlaskan. Mengikhlaskan dengan segala kesadaran dan kerelaan hati. Memasrahkan segala perasaan yang ada pada sang Maha Cinta. Dengan keyakinan dan keikhlasan.

Percaya bahwa Allah telah mengatur semuanya. Dia atau bukan dia. Pasti Allah beri yang terbaik untuk kita. Di waktu yang tepat dengan cara yang indah.

Ikhlas bahwa dia belum tentu yang terbaik untuk kita dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat adalah hal yang harus dilakukan.

Mulai jaga hati dengan selalu mohon petunjuk kepadaNya. Terus berdoa dan lakukan hal-hal baik yang bermanfaat untuk diri kita dan orang lain disekitar kita.

Percayalah, Allah tau yang terbaik untukmu.. untuk kita 🙂

Tinggalkan Komentar