Menepis bayang

Sudah beberapa hari ini, sedikit demi sedikit ku biasakan tanpa memikirkanmu. Masih berusaha. Masih berlatih untuk tak lagi mengharap lebih. Merelakanmu dengan utuh.

Ku sibukkan waktuku dengan kegiatan-kegiatan yang positif atau hal apapun yang bisa mengalihkan duniaku tentangmu. Sampai aku benar-benar terbiasa tanpa beban melewati hari-hari yang kulalui.

Meski sesekali aku masih saja mengukir khayal di ruang imajinasiku. Dan ketika ilusi itu datang, aku segera melupakannya saat aku tersadar. Ya, ini proses. Aku menyadarinya. Dengan harap dan terus melangkah, semoga semua kan baik-baik saja.

Aku tau tak seharusnya aku begini, terlalu jauh membayangkan aku denganmu. Aku tau, imajinasiku terlalu liar. Untuk hal-hal yang kuharap kan terjadi saat telah bersama. Untuk hal-hal yang kuingin lakukan saat telah bersama. Semua ada dalam ilusi pikiranku yang semu.

Entah sampai kapan, entah akan bagaimana. Padahal biasanya yang sudah dibayangkan sebelumnya pada kenyataannya tak berbanding lurus. Justru berbanding terbalik. Itu artinya semua yang kubayangkan tak akan terjadi di dunia nyata. Hanya indah dalam angan. Tapi kecewa yang kudapat.

Aku selalu mencoba tersenyum, saat aku mengingatmu juga saat kubayangkan suatu hari kamu hanya cerita. Kamu bersama orang lain. Kamu dan aku tidak jadi kita. Aku selalu mencoba terseyum, saat apa yang kurasakan saat ini akhirnya hanya menjadi khayalan.

Aku terlalu terobsesi dengan hasratku, inginku dan khayalanku. Tanpa sadar aku telah mengesampingkanmu dan Allah. Aku tak berpikir, apakah kamu juga melakukan hal yang sama denganku? Apakah kamu juga merasakan apa yang kurasakan? Apakah kamu berdoa seperti halnnya kuberdoa? Apakah kamu berusaha layaknya ku berusaha?

Aku pun lupa. Ada Allah. Aku bisa berencana dan berkhayal seindah mungkin. Tapi akhirnya, Ia yang akan tentukan. Aku percaya dengan KuasaNya. Dan aku ingin serahkan semua padanya. Hatiku, harapku, citaku dan cintaku. Aku dan kamu bukan suatu yang mustahil. Jika Allah meridhoi. Aku dan kamu pun tak mustahil untuk tidak bersama. Jika Allah memang berkehendak.

Rahasia yang dinanti. Rahasia yang dicari. Selama itu, aku harus terus berjalan. Tersenyum dengan ketulusan dan keberanian. Penuh keyakinan. Berlandaskan keikhlasan. Keyakinan ini tak boleh goyah. Meski ditengah jalan badai menerpa. Bismillah. Perlahan. Lakukan dengan pasti. Hilangkan ragu.

Ada banyak warna di masa depan. Aku harus menikmati dan melewati semua warna itu. Aku harus selalu sadar. Aku sedang berjalan. Menuju RidhoNya. Di bumi yang tua ini. Di waktuku yang singkat ini. Dengan atau tanpa kamu, kembaliku hanya PadaNya. Jadi biar Allah yang putuskan. Biar Allah yang kan tunjukkan. Biar Allah yang yakinkan hatiku. Hingga takdir ia tetapkan.

Tinggalkan Komentar