Sudah hampir sepekan berlalu, tapi aku masih saja belum melakukan apapun. Melakukan apapun yang kuharap bisa memperbaiki suasana hatiku saat ini. Bukannya membaik, perasaan ini justru semakin mencekam hatiku. Seperti aku berjalan di lorong sepi.. semakin jauh dan semakin dalam rasa sepi itu merengkuh hatiku. Aku takut hatiku beku, hatiku keras seperti batu dan dingin melebihi balok es.
Sekilas, alhamdulillah aku masih bisa menjalankan dan menyelesaikan tugas dan pekerjaanku dengan baik. Dengan bekerja, melakukan kegiatan apapun adalah obat dari penyakit hati ini. Tapi tak bisa kupungkiri, hatiku memang tak sedang baik-baik saja. Orang yang mengenalku seharusnya tau dengan keadaanku saat ini. Namun aku tidak boleh mengharapkan orang lain untuk mengerti. Aku tidak bisa meminta apalagi memaksa mereka untuk paham. Semua itu hanya sia-sia.
Salah satu sifat burukku adalah aku yang terlalu egois, mengharap orang lain selalu mengerti aku. Aku yang terlalu egois untuk mengawali segala sesuatu. Aku hanya menerima, aku tidak mau berusaha. Aku tak pernah mau memberi. Aku yang selalu mengelak dari segala perasaan yang kurasa, aku yang ingin tapi tak mau melakukan. Iya. Aku hanya bisa memendam dan menanggung semua perasaan yang muncul ini sendiri.
Sedari kecil, aku sudah terbiasa berteman dengan sepi. Angin yang bertiup membelai wajahku , perlahan merasuk ke dalam hatiku membawa sedikit kesejukan di ruang sempit dalam hatiku. Langit yang kelabu berhias bintang adalah sahabat terbaik, mereka selalu bisa membuatku tersenyum. Meski hanya senyum simpul. Merekalah yang selalu setia, menyaksikan setiap keresahan yang dirasakan hati. Bulan terkadang menemani, menambah indah dunia malam yang gelap. Membawa terang bagi langit yang kelam. Ia juga selalu kupandang, sesekali aku bertanya. Sesekali aku bergumam. Dalam hati, meski dalam hati aku selalu percaya bahwa alam turut merasakan apa yang kurasakan. Mereka adalah saksi di setiap detikku mengadu. Merintih dalam hati dengan lirih.
Hingga suatu hari, Allah hadirkan malaikat-malaikat terbaik untukku. Hidupku lebih berwarna. Bahkan penuh warna. Sahabat, teman, saudara. Mereka sangat berarti untukku. Merekalah yang mewarnai hari-hariku. Saat itu, aku tak pernah merasa kesepian lagi. Sifatku tetap sama dari dulu. Aku tidak pernah memulai lebih dulu. Mereka yang selalu mengawali, mereka yang mengajakku, membawaku untuk mencoba hal-hal baru. Turut menasihati dalam kebaikan. Mereka yang menerimaku dan akhirnya kami semakin dekat. Satu sama lain saling bertukar cerita. Semua baik-baik saja. Sejak bersama mereka, aku sudah tidak lagi berbicara dengan langit, bulan dan bintang. Semua perasaan yang dulu selalu kusimpan rapi dalam hati kecilku, hingga berjuta rasa dan kata yang terlukis cukup memenuhi hatiku. Akhirnya bisa kuceritakan dengan mereka. Hingga tak ada sedikitpun yang tersisa dalam hati. Mereka sangat baik, Dan sekarang aku tau, aku rindu..
Tapi kini rasanya semua beda, tak lagi sama seperti dulu. Jarak dan kesibukan kami menjadikan kami jarang untuk saling bersua. Dan…. yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa. Semoga mereka selalu dalam keadaan baik, selalu dikelilingi dengan rahmatNya, semoga mereka selalu bahagia. Dan berharap salamku untuk mereka Allah sampaikan.
Alhamdulillah.. hatiku sedikit lega, la tahzan.. inalloha ma’ana.