Belajar membuka hati

Dalam beberapa tulisan sebelumnya, sudah cukup aku utarakan perjalanan asmaraku yang berakhir dengan sepihak. Aku tidak tau, apakah ini pantas untuk disebut kisah cinta. Karena kenyataannya hanya aku saja yang merasakannya. Bukan perasaan yang dirasakan oleh dua orang yang berpasangan. Bahkan untuk menjalin komitmen pun tak ada sama sekali.

Aku tak sebegitu mudahnya berpaling kepada orang lain. Selama ini aku setia pada satu hati yang meskipun belum jelas hubungannya. Cukup lama. Bertahun-tahun perasaan ini ku simpan, ku jaga, ku coba lepas. Sampai kini. Jika saja aku boleh jujur. Masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku tentang dia. Entah apa, entah mengapa. Aku harap ini bukanlah perasaan cinta. Aku harap ini adalah bagian dari proses untuk mengikhlaskan. Cukup sesak di dada kurasakan namun aku berusaha untuk menepisnya.

Setelah kuputuskan untuk ikhlas melepasnya. Hatiku cukup lega, 80 % hatiku terisi dengan kedamaian dan ketenangan. Tak lagi gelisah memikirkannya. Tak lagi melulu wajahnya yang ada dalam pelupuk mataku juga ruang imanjinasiku.

Beberapa waktu kemudian , hadir seseorang atau mungkin beberapa orang yang mendekatiku. Meski hanya lewat sosmed tapi aku rasa dia orang yang baik dan berniat baik. Dia ingin serius mencari pasangan hidup. Dan entah dia bercanda atau tidak , dia mengajakku dan berusaha menggodaku. Yaa..

Hubungan kami baik, kami masih saling mengenal. Meskipun begitu, aku tidak tahu mengapa hatiku kembali ragu. Saat ini aku sedang berusaha untuk membuka hati untuk orang lain. Untuk siapapun yang datang kepadaku. Tapi lagi-lagi perasaan tak siap kembali menghantuiku. Mengelabui hati dan pikiranku.

Aku merasa bahwa aku masih harus banyak belajar untuk mempersiapkan mental. Dan meluruskan niatku untuk menjalankan ibadah terpanjang itu. Aku harus banyak membaca dan memohon hidayahNya agar hatiku diberikan kekuatan, petunjuk, keyakinan untuk mengambil keputusan.

Untuk menerima, untuk siap belajar. Untuk menurunkan ego. Bagaimanapun aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku tak ingin memberikan harapan palsu padanya. Apalagi jika dia benar-benar punya niat baik.

Selain itu, saat ini aku juga sudah mulai fokus dengan perkuliahan. Minggu ini, tugas sudah menumpuk. Mau tidak mau aku harus bisa mengatur waktu dan menyelesaikannya tepat waktu. Aku berharap bisa melakukan semua tugas dan tanggung jawabku dengan baik. Lancar.

Sembari itu semua, semoga aku bisa menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan siapapun. Alhamdulillah, hubungan kami, aku dan sahabatku kian membaik. Kita sudah kembali berbincang tentang kita. Tentang masalah dan pendapat. Alhamdulillah wa syukurilah.. 🙂

Semoga aku bisa menjaga dan mengontrol emosiku.. aamiin

Laa haula wala quwwata ila billah…

Tinggalkan Komentar