Membisu

Hal yang biasa kulakukan saat situasi tak lagi sejalan dengan hati. Banyak yang terjadi, banyak yang bicara, banyak yang bertingkah. Tapi aku tak peduli, aku tetap saja mengatupkan mulutku rapat-rapat, sulit rasanya untuk mengucap sepatah kata saja pun. Aku tidak bisa bicara karena itu hanya akan menyakiti orang lain, atau bahkan memperkeruh keadaan. Aku lebih baik diam seribu makna. Menahan emosi, mencoba menurunkan ego, sampai gemuruh di dada perlahan reda.

Pada akhirnya kemarahan tidak membantu, tidak juga membuat masalah selesai. Apapun alasannya, itu tidaklah baik. Mungkin orang lain mempunyai pendapat yang berbeda denganku, semua sah-sah saja. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengendalikan diri.

Membisu memberiku ruang untuk berpikir sekaligus merasa, keduanya beradu yang akhirnya timbul rasa yang disebut galau. Dan jalan yang paling baik dan paling tepat adalah membawa segala perasaan dan kegelisahan kepada yang membolak-balikkan hati manusia yaitu Allah. Hanya dengan mendekat kepadaNya hati menjadi tenang, dan berangsur-angsur solusi dari segala permasalahan ia berikan. Tidak ada yang sia-sia saat kita berharap dan berdoa kepada Allah.

Dari sekian kejadian yang terjadi dalam hidupku, semakin membuatku merasa dan berpikir bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak selamanya menetap pada bumi ini, tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah akhirat. Menggapi ridho untuk memasuki surgaNya. Jadi lakukan yang terbaik. Jangan menyerah , jangan berputus asa!!!

Menyatu dengan takdir

Hal yang tidak bisa kita ubah adalah hal yang sudah terjadi. Suka atau tidak suka tak akan mungkin bisa di ulang , dihapus kemudian diperbaiki. Semua yang telah terjadi sudah menjadi bagian dari takdir yang tertulis dalam buku, dimana tinta yang digunakan untuk menulisnya tidak bisa dihapus dengan apapun.

Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku adalah takdir yang Allah tetapkan untukku. Tentang orang-orang yang aku temui di jalan. Tentang orang-orang yang tiba-tiba menghubungi setelah sekian lama tak ada kabar. Tentang orang-orang yang pergi tanpa pamit. Tentang kejadian-kejadian yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Dan masih banyak yang lainnya. Semua itu kuyakini terjadi atas izin dari_Nya.

Sudah cukup lama dan cukup banyak hal yang terjadi dalam diriku. Tentang asa dan prinsip yang berubah mengalir seperti air. Dari semenjak dia datang dan membuatku terjebak dengan angan dan khayalan. Sampai sekarang aku merasa lebih baik dengan terus berusaha mengikhlaskannya. Dia datang tanpa permisi pergipun tanpa pamit. Itu adalah kebiasaannya.

Entah mengapa aku masih ingin menceritakan tentang dia, meski hanya dalam dunia maya dan dalam bentuk tulisan. Tak bisa kupungkiri , kadang hatiku masih ingin melihatnya, masih penasaran tentang dia. Rasanya ada hal yang harus diselesaikan dengan dia. Ada serpihan hatiku yang harus kubuang jauh-jauh. Perasaan yang terpendam selama ini tak begitu saja hilang secepat dia pergi tanpa kabar. Sudah berulang kali dia lakukan itu, tapi bodohnya aku masih saja luluh saat ia datang.

Sebenarnya dia hanya membuatku gelisah tak menentu, hidupku bukannya lebih baik tapi dipenuhi dengan kecurigaan dan keraguan tentangnya. Aku belum bisa memberi kepercayaan atau percaya padanya sepenuh hati. Pikirku selalu mengelak apa yang dirasakan hati. Pikirku tak pernah setuju jika aku memberinya kepastian atau sekedar berkata jujur atas apa yang aku rasakan sebenarnya.

Sampai akhirnya aku mendengar kabar tentang dia dan kekasihnya. Tak lama sebelum itu, komunikasi kita sudah terputus. Story WA sudah tak pernah muncul lagi. Ia pun tak pernah chat aku sekalipun. Naasnya, percakapan kita yang terakhir benar-benar membuat hatiku tak karuan. Pikirku sudah melayang jauh. Ada harapan dan hampir pada sebuah kepastian yang dia berikan padaku. Tapi lagi-lagi aku yang terjebak. Ia sempat bertanya dan mengajak untuk menikah, seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya. Saat itu, aku benar-benar belum siap untuk menikah. Tapi aku gundah. Mungkin baper karena melihat teman-teman banyak yang menikah. Dan lumayan banyak aku menghadiri pesta pernikahan mereka. Terlebih ada beberapa orang yang datang tak dikenal juga menanyakan hal serupa. Ketika itu, pikiranku masih dipenuhi dengan berbagai persiapan pernikahan, seperti materi dan mental. Dari segi semua itu aku benar-benar merasa belum siap sama sekali. Aku mengatakan semua ini dengan jujur kepadanya. Entah apa yang dia pikirkan. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya.

Itu adalah obrolan terakhir kami sebelum dia pergi. Tak lama kemudian, akhirnya aku mendengar jawaban yang selama ini menjadi pertanyaan dalam benakku. Pertanyaan apakah dia punya pacar? Mungkin ini yang dinamakan takdir, cara Allah menunjukkan sesuatu di waktu yang tepat. Aku tau akhirnya bahwa dia punya pacar, dia juga memiliki hobi yang sama dengannya. Mereka hendak merencanakan kegiatan bersama. Sebenarnya aku juga diajak olehnya tapi aku tolak dengan alasan hari itu bukan hari libur.

Setelah itu, perlahan hatiku mulai tenang dan menerima keadaan dan perasaan. Aku mulai menyadari bahwa aku memang sudah terlalu jauh berandai-andai tentangnya. Menyangka dia adalah jodohku, dan merasa bahwa hanya dia yang akan jadi jodohku nantinya. Aku tidak bisa menilai dengan tolok ukur itu. Sejak saat itu, hati dan pikiranku sudah bukan dia lagi. Waktuku kugunakan untuk kegiatan positif. Aku ikhlas, rela, tapi serasa masih ada dendam dalam hati. Aku butuh kejelasan, tapi sebenarnya tak ada yang perlu dijelaskan. Aku ingin memarahinya tapi dia bukan siapa-siapa.

Dan beberapa waktu yang lalu, ibuku memberitahuku bahwa aku mau dijodohkan dengan seseorang yang belum aku kenal. Orang itu minta dicarikan istri kepada seseorang. Lalu orang itu menawarkan aku untuk menikah dengannya. Setelah ibuku menceritakan sedikit latar belakangnya, aku menangkap harap dari perkataannya. Dengan kata lain, ibuku menyetujui jika aku mau menerimanya. Walaupun saat itu hatiku sudah membaik, tapi jawabanku masih sama. Aku belum mau menikah, aku mau fokus dulu dengan kuliahku. kurang lebih 1 tahun lagi.

Akhirnya ibuku bilang agar aku segera memberi kepastian. Kata ibuku nomorku sudah diberikan padanya agar kita bisa kenal satu sama lain. Begitupun aku diberi nomornya. Tapi sampai saat ini belum juga ada kabar darinya. Entah apa dan kenapa , aku tidak bisa menebaknya. Dan aku juga tidak mau bertanya atau mendahului untuk menghubunginya.

Bukannya aku setuju, tapi aku berusaha untuk lebih membuka diri. Membuka hati untuk orang lain. Aku sedang berusaha menata hati dan niatku untuk menikah. Karena aku ingin menikah dengan niat beribadah kepada Allah. Bukan karena alasan lain. Bukan karena umur dan lain-lainnya. Dan dengan semua yang terjadi ini, aku berpikir dan semakin percaya bahwa Allah pasti akan berikan aku jodoh terbaik. Pada waktu yang tepat dan dengan cara yang indah. Entah dengan alur cerita yang sama atau berbeda dengan orang lain. Entah kapan waktu itu tiba. Aku yakin jika Allah sudah berkehendak, semua akan mudah dan menjadi mungkin.

Dengan berharap cinta yang suci tak ternodai, aku berlindung dan berserah padaNya. Akan jodoh yang Ia siapkan untukku. Jika memang Allah takdirkan, aku yakin Allah akan dekatkan. Dua hati untuk saling terpaut, mencinta karenaNya. Dengan orang yang pernah ada dalam hatiku atau dengan orang baru yang belum kukenal. Entah dengan orang yang jauh atau orang yang dekat, aku percaya dan aku ingin ikhlas , ridho dengan segala takdir yang Ia tetapkan atas diriku.

Bismillah, terus belajar.. perbaiki diri terus menerus. Fokus pada diri sendiri, dengan hal-hal yang baik dan positif. Lakukan semaksimal mungkin. Serahkan semua padaNya.

Lahaula wala quwwata ila billah…

Menepis bayang

Sudah beberapa hari ini, sedikit demi sedikit ku biasakan tanpa memikirkanmu. Masih berusaha. Masih berlatih untuk tak lagi mengharap lebih. Merelakanmu dengan utuh.

Ku sibukkan waktuku dengan kegiatan-kegiatan yang positif atau hal apapun yang bisa mengalihkan duniaku tentangmu. Sampai aku benar-benar terbiasa tanpa beban melewati hari-hari yang kulalui.

Meski sesekali aku masih saja mengukir khayal di ruang imajinasiku. Dan ketika ilusi itu datang, aku segera melupakannya saat aku tersadar. Ya, ini proses. Aku menyadarinya. Dengan harap dan terus melangkah, semoga semua kan baik-baik saja.

Aku tau tak seharusnya aku begini, terlalu jauh membayangkan aku denganmu. Aku tau, imajinasiku terlalu liar. Untuk hal-hal yang kuharap kan terjadi saat telah bersama. Untuk hal-hal yang kuingin lakukan saat telah bersama. Semua ada dalam ilusi pikiranku yang semu.

Entah sampai kapan, entah akan bagaimana. Padahal biasanya yang sudah dibayangkan sebelumnya pada kenyataannya tak berbanding lurus. Justru berbanding terbalik. Itu artinya semua yang kubayangkan tak akan terjadi di dunia nyata. Hanya indah dalam angan. Tapi kecewa yang kudapat.

Aku selalu mencoba tersenyum, saat aku mengingatmu juga saat kubayangkan suatu hari kamu hanya cerita. Kamu bersama orang lain. Kamu dan aku tidak jadi kita. Aku selalu mencoba terseyum, saat apa yang kurasakan saat ini akhirnya hanya menjadi khayalan.

Aku terlalu terobsesi dengan hasratku, inginku dan khayalanku. Tanpa sadar aku telah mengesampingkanmu dan Allah. Aku tak berpikir, apakah kamu juga melakukan hal yang sama denganku? Apakah kamu juga merasakan apa yang kurasakan? Apakah kamu berdoa seperti halnnya kuberdoa? Apakah kamu berusaha layaknya ku berusaha?

Aku pun lupa. Ada Allah. Aku bisa berencana dan berkhayal seindah mungkin. Tapi akhirnya, Ia yang akan tentukan. Aku percaya dengan KuasaNya. Dan aku ingin serahkan semua padanya. Hatiku, harapku, citaku dan cintaku. Aku dan kamu bukan suatu yang mustahil. Jika Allah meridhoi. Aku dan kamu pun tak mustahil untuk tidak bersama. Jika Allah memang berkehendak.

Rahasia yang dinanti. Rahasia yang dicari. Selama itu, aku harus terus berjalan. Tersenyum dengan ketulusan dan keberanian. Penuh keyakinan. Berlandaskan keikhlasan. Keyakinan ini tak boleh goyah. Meski ditengah jalan badai menerpa. Bismillah. Perlahan. Lakukan dengan pasti. Hilangkan ragu.

Ada banyak warna di masa depan. Aku harus menikmati dan melewati semua warna itu. Aku harus selalu sadar. Aku sedang berjalan. Menuju RidhoNya. Di bumi yang tua ini. Di waktuku yang singkat ini. Dengan atau tanpa kamu, kembaliku hanya PadaNya. Jadi biar Allah yang putuskan. Biar Allah yang kan tunjukkan. Biar Allah yang yakinkan hatiku. Hingga takdir ia tetapkan.

Melepas atau mengejar

Topikku masih sama, aku belum mau beranjak dari apa yang kurasakan saat ini. Sampai hatiku benar-benar bisa bebas dari perasaan-perasaan yang membelengguku.

Sebenarnya perasaanku ini seperti melodi dalam lagu. Kadang naik kadang turun. Kadang tinggi kadang rendah. Atau datar. Sewaktu-waktu dapat berubah. Bahkan dalam sekejap hatiku bisa berubah haluan. Secepat angin yang berhembus.

Aku tidak mengerti. Saat dia jauh dari hidupku, hatiku baik-baik saja. Aku mampu mengendalikan hatiku sendiri. Tak ada kegelisahan yang berarti dalam hatiku. Tapi saat dia datang tiba-tiba, aku ternyata belum mampu menahan hatiku. Selama ini, aku masih kalah. Aku belum berhasil menjaga hatiku baik-baik. Hingga aku terlena dan terjebak berulang kali.

Saat dia datang, kata-katanya selalu membuatku berharap lebih padanya. Ada banyak sisi yang ingin kuketahui tentangnya. Bagaimana sebenarnya hatinya, pribadinya dan sifatnya. Dibalik berjuta alasan yang muncul dalam otakku selalu ada satu alasan yang membuatku tak jua benar-benar melupakannya.

Kadang aku berpikir, mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapi ini. Aku yang terperangkap oleh angan dan pikiranku sendiri. Imajinasiku menguasai akalku, membutakan hatiku, dan melampaui batasanku. Karena sejauh ini aku masih saja luluh saat dia mendekatiku. Aku masih saja manaruh harap dan sedikit kepercayaan dengan apa yang dia ucapkan.

Ingin sekali aku terlepas dari semua beban yang kutanggung sendiri di ruang sepi hatiku ini. Tiada yang tau, bahkan sekalipun kuceritakan semuanya kepada orang lain. Tetap saja, aku tak bisa berbohong. Yang aku tidak tau, sampai kapan perasaan ini harus kurasakan. Bagaimanakah akhir dari perasaan yang kupendam selama ini?

Semua masih menjadi rahasia. Setiap langkah kuberharap Allah menuntunku. Selalu ada kemungkinan. Apakah rasaku kan tersampaikan dan berbalas atau rasaku akan lenyap bersama waktu yang berlalu?

Aku masih tidak tau, bahkan aku bimbang untuk mengatakan kejujuran ini padanya. Apa yang akan terjadi jika aku jujur. Dan apa yang akan terjadi jika ku simpan saja rasaku ini. Oh Tuhan. Kuatkan aku, jika dengan menjaga hati adalah cara terbaik. Dan jika dengan berkata jujur padanya adalah jalan terbaik, berikan aku keberanian untuk mengatakannya Ya Allah.

Seharusnya aku berhenti terjebak dalam keadaan ini. Aku harus bangkit. Datang dan perginya dia mestinya banyak memberi pelajaran untukku. Saat dia datang, aku anggap sebagai ujian atau petunjuk. Dan saat dia pergi, mungkin itu pertanda agar aku bisa memperbaiki diriku lagi. Memantaskan diri, dan menggapai cita yang masih kuusahakan.

Aku ingin melangkah dengan bebas tanpa beban. Menerima apapun yang Allah berikan. Melakukan apapun yang bisa kulakukan. Astaghfirulloh. Bismillah.

Tidak semestinya aku takut ataupun gelisah. Allah selalu punya cara untuk menyatukan dua insan yang berjodoh. Entah aku maupun dia. Entah akan bersama atau terpisah. Pada waktu yang tepat dengan cara yang indah.

Aku harus mampu melakukan yang terbaik, selagi ada waktu dan kesempatan. Untuk belajar apapun yang bisa kupelajari. Semoga, resah dan gelisahku lekas enyah dari hatiku. Mempercayakan penuh segala keyakinan dan harapan kepada Allah Sang Maha Cinta.

Ya Allah, biarkan aku ikhlas menerima setiap takdir yang Kau tetapkan atas diriku. Izinkan ku ridho dengan segala yang Kau pilihkan untukku. Hingga tak ada sedikitpun beban yang mengganjal di hatiku. Bahagia dengan segala ketetapanNya. Selalu sabar, ikhlas dan bersyukur atas segala ketetapanNya.

Aamiin.. Ya robbal alamin

Yang terpendam..

Bersama malam, kuratapi setiap perasaan yang kusimpan. Bersama angin, dititipkan segala segala sepi yang mencekam hatiku.

Pada bintang kutatap dalam-dalam, dan berbisik tentangnya.

Pada bulan, ku tersenyum menyapa indah sinarnya. Membalut keputusasaan harapku.

Sesekali kuputar lagu, menghibur sejenak hati yang gelisah.

Mereka hanya saksi, yang selalu setia menemani dalam kesendirian.

Tapi kenyataan bahwa ada dia dalam hatiku tak bisa ku pungkiri.

Bertahun rasa ini mendekam dalam hatiku. Meski berkali dia menghilang tiba-tiba. Terdengar bodoh. Tapi ini kenyataannya.

Sekuat hati ku menjaga, kusimpan dalam-dalam. Dan menahan perasaan tidak selalu mudah. Kadang hati ingin menjerit. Kadang ingin datang padanya. Kadang ingin bersamanya.

Ada rasa yang disebut rindu. Tapi aku sendiri ragu. Benarkah ini rindu?

Bagaimana caraku merindu, pada seseorang yang bukan siapa-siapa untukku?

Bagaimana kurasa rindu, sedang tak ada kenangan dan kebersamaan diantara kita?

Tak ada. Akhirnya ku menduga, jika ini hanya halusinasiku. Yang ku ciptakan di ruang bawah sadarku. Menumpulkan akalku. Meracuni pikiranku. Melampaui batasan ku. Hingga begitu liar imajinasiku bekerja. Sungguh sebenarnya ku tak ingin.

Aku sudah terlalu jauh memikirkannya. Padahal seharusnya tak kulakukan ini. Karena dia adalah ketidakpastian. Ketidakpastian untukku. Belum tentu dia yang akhirnya bersamaku.

Dan saat ini juga selama ini aku hanya bisa berdoa yang terbaik. Untukku dan untuknya. Aku tidak ingin ada cinta yang tak halal. Aku ingin mencinta karenaNya. Saat ada ikatan halal yang menyatukan.

Sedang sekarang, semua belum pasti. Juga hatiku yang masih bisa berubah. Sebagaimana Alloh yang mampu menolak balikkan hati manusia. KepadaNya aku berpasrah. Jika rasaku ini benar, aku yakin Ia yang akan tunjukkan dan condongkan hatiku untuk memilihnya. Namun jika rasa ini salah aku pun yakin Ia akan tunjukkan padaku kemana hatiku harus berlabuh.

Namun, bila aku boleh berkata jujur saat ini.. Aku ingin mengatakan bahwa hanya dia yang selama ini ada dalam hatiku.

Aku tidak bisa bohongi rasaku sendiri.

Teruntuk kamu,

#P

Menghantam Rindu

Bismillah..

Tanpa bisa aku bohongi hatiku saat ini. Entah perasaan apa ini. Sampai air mataku rasanya tak sanggup lagi kutahan. Ingin rasanya aku menangis. Tapi tidak tau apa yang kutangisi.

Apakah ini yang dinamakan rindu?

Bagaimana caranya rasa itu datang? bagaimana aku merindu pada yang semu. Membayangnya. Mengharapnya. Menginginkannya. Memikirkannya. Sedang inginku melepasnya. Mengikhlaskannya. Hadirnya membuat hatiku gelisah. Sebagian besar perasaanku dipenuhi olehnya. Namun dia belum tentu merasakan hal yang sama.

Ingin sekali rasanya aku bicara, mengatakan setiap rasa yang tertata di sudut-sudut hatiku yang sepi. Ingin aku mengatakannya, padanya yang namanya belum hilang dari hatiku. Mengatakannya, sampai tak tersisa sedikitpun keraguan dan keresahan hatiku.

Tapi apalah dayaku, aku tak berani menyapanya. Aku takut memulainya. Aku terlalu takut dengan segala kekecewaan yang mungkin akan kudapatkan.

Aku masih tak mengerti dengan apa yang kurasakan selama ini. Harapku, hanya cinta atas ridhoNya yang ingin ku pupuk dan kubiarkan tumbuh mekar mewangi. Doaku, hanya cinta untuk dia yang namanya telah disandingkan denganku di Lauh mahfuz. Bagaimana aku menyebutnya sebagai cinta untuk sesuatu yang belum halal untukku?

Untuknya yang datang dan pergi tanpa pasti. Untuknya yang sudah berhasil membuat hatiku gundah. Untuknya yang masih kuragukan kesediaannya. Untuknya yang bukan siapa-siapa. Untuknya yang tak pernah tau perasaanku. Untuknya yang belum pasti menjadi jodohku.

Sampai saat ini, aku berusaha menghantam rindu yang kupendam. Kukubur dalam-dalam dengan kepayahan. Kuberusaha meski tertatih.

Karena seharusnya segala rasa mestinya kupasrahkan padaNya. Dzat Yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Dengan segala kuasaNya. Memohon kebaikan dan pertolongan.

Maka harus selalu kuingat. Harus selalu kujaga. Harus selalu kubelajar.

Tapi aku tidak bisa berbohong. Bolehkah aku titip rindu ini lewat doa?

Sampaikah rinduku padanya. Biarkan Allah yang memutuskan. Biarkan Allah yang kan tunjukkan tentang perasaan dan doaku ini dengan caraNya. Cara terbaikNya.

…. Suly ….

Membungkus ketidakpastian..

Malam ini lagi-lagi hatiku merasa sepi. Entah harus kubiarkan atau kucegah saja. Sampai kapan? Apa sampai semuanya terlambat.

Aku yang tidak bisa membohongi perasaanku sendiri ingin tetap terjaga dalam ridho serta pelindunganNya.

tak ada tempatku bercerita kecuali padaNya. Sekuat mungkin aku menjaga perasaan ini dalam-dalam. Hingga waktu yang Allah janjikan tiba.

Angan dan khayalku terlalu membara. Tapi aku terus berusaha sewajarnya. Entah siapapun orangnya nanti, aku percaya rencana Tuhan.

Saat ini , tak ada alasan untuk belajar sembari memantaskan diri.

Semamgatt😊

Menguatkan tekad, meluruskan niat..

Terkadang aku berpikir, mungkin memang jalan hidup manusia sudah digariskan oleh Allah. Kita manusia hanya bisa menerima dan menjalani apa yang ditakdirkan atas diri kita. Seakan tak ada pilihan lain untuk berjalan. Pintu lain tertutup untuk satu pintu yang sudah disediakan. Untuk seseorang meniti jalan yang ditujukan di depan mata.

Tapi asumsi orang sukses banyak yang berbeda. Mereka selalu berprinsip bahwa hanya dengan kerja keras dan pantang menyerah mereka bisa mencapai puncak keberhasilan. Tanpa semua kerja kerasnya maka mereka tidak akan jadi apa-apa.

Menurutku, keduanya memiliki sisi positif. Tapi juga memiliki sisi negatif. Saat kita beranggapan bahwa jalan kita adalah takdir yang Allah tetapkan untuk kita maka hati kita semestinya jauh dari sifat takabur dan sombong. Sedangkan saat kita beranggapan bahwa segala pencapaiannya hanya karena usahanya itu berarti menandakan bahwa kita pantang menyerah. Karena nyatanya tak ada kesuksesan tanpa adanya hambatan dan ujian.

Entah pendapat mana yang paling benar dan mungkin memang setiap orang punya standar sendiri dalam menanggapi sesuatu. Seperti halnya aku, saat ini aku hanya menjalani apa yang ada di depan mata.

Yang pasti aku masih percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini hanya atas izinNya. Jadi, dengan peluangku menjadi guru saat ini adalah bagian takdir yang Ia tetapkan untukku. Dulu, aku tidak pernah bermimpi menjadi guru. Tapi doa dan harapku selalu kupanjatkan setiap hari . Dan mungkin ini adalah jalan yang Allah pilihkan untukku untuk mencapai apa yang menjadi harapan dan doaku selama ini.

Ada peluang yang Ia tawarkan kepadaku. Ada banyak hal yang terjadi dan tak bisa kutebak. Namun aku selalu merasa beruntung dan bersyukur dengan segala nikmatNya. Nikmat karena diberikan kesempatan untuk belajar hal-hal baru. Sehingga sedikit demi sedikit aku menjadi tau.

Meskipun begitu, aku sadar semakin aku belajar semakin aku tau bahwa aku bodoh. Ada banyak hal di dunia ini yang belum kuketahui dan mampu kulakukan. Ada banyak kekurangan dalam diri yang harus terus diperbaiki.

Dan untuk mengubah itu semua, butuh waktu, tekad, niat dan hati yang kuat. Terutama iman dalam dada yang menjadi pondasi segala sifat. Godaan terbesarku adalah kemalasanku. Yang seharusnya bisa kukendalikan sendiri. Tapi masih saja aku santai dan merasa tidak terjadi apa-apa.

Aku ingin tugas apapun yang diberikan untukku , aku bisa mengerjakannya dengan baik . Aku bisa mengambil manfaatnya dan pembelajarannya. Dengan niat yang lurus dan tekad yang kuat aku percaya , aku bisa melewati semua rintangan dan ujian yang menghadang. Saat Allah berikan ujian dan tugas berarti Allah tau bahwa kita mampu mengerjakannya.

Jadi, percaya diri dan keep calm. Jalan saja dan lewati apapun rintangan yang menghadang di jalan ini. Semua akan tepat pada waktunya.

So, semangat 😃

Masih banyak hal yang harus dikejar sebelum kesempatan tak lagi berpihak padaku ☺️☺️☺️

Sampai batas waktu yang telah Allah tetapkan..

Hari berlalu dengan pasti. Putaran jam dan detik tidak lagi terhitung. Hari yang berlalu menandakan adanya sesuatu yang terlewati untuk mendekati sesuatu yang lain. Meskipun, sesuatu itu tidak bisa ditebak apa gerangan.

Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa, berharap dan berusaha. Untuk mengukir hal terbaik di detik yang berlalu. Dan harapan untuk menunggu kepastian. Berjalan beriringan dengan waktu yang tidak pernah lelah berputar.

Waktu tidak bisa ku minta untuk berhenti. Bahkan untuk berjalan pelan saja tak mungkin. Ia tak mungkin terlambat. Langkahnya tepat. Hitungannya pasti. Tak pernah lengah.

Tapi aku bukan waktu yang tak kenal lelah. Saat aku mengejar sesuatu, ada saat dimana aku harus mengalah dengan waktu. Membiarkannya terus berjalan sementara aku terdiam. Yaitu saat aku istirahat, tidur. Saat itu kubiarkan waktu berlalu dan aku berhenti mengejar harapku.

Kalau saja, saat aku tidur waktu bisa berjalan lebih lambat. Mungkin aku akan lebih cepat mendapatkan apa yang kuharapkan. Tapi bukan waktu itu yang membuatku tertinggal. Melainkan waktu yang dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Waktu yang dihabiskan untuk memenuhi nafsu bernama keinginan. Itulah sebenarnya waktu yang paling menyitaku. Sehingga menghambat ku dalam mencapai tujuan dan harapku.

Cita dan cinta adalah hal yang waktunya tak bisa kupastikan. Saat keduanya kujadikan tujuan dan harapan. Maka, waktu adalah sahabat yang selalu setia menemani setiap langkahku. Menjadi saksi bisu dari setiap perasaan dan perjuanganku.

Harus berjuang kan untuk bisa mendapatkan sesuatu? Berjuang dan berpacu dengan waktu. Dalam perjalanan meraih cita, waktu adalah sainganku untuk menggapainya. Saat aku bisa meraihnya dalam waktu singkat maka aku yang menang. Tapi jika waktu ternyata lebih cepat dari usahaku maka aku kalah.

Tapi tidak dengan cinta, aku percaya pada waktu yang bergulir setiap saat. Aku percaya cinta dan waktu adalah jodoh yang tak mungkin tertukar. Dan masa itu akan tiba dengan tepat. Tak kan terlambat. Aku percaya itu.

Namun, selama masa itu belum sampai. Akupun harus mengukir sejarah baik di setiap detik waktu yang berlalu. Belajar segala hal. Memperbaiki diri dan terus berusaha menjadi baik. Hingga batas waktu yang Allah tetapkan untukku tiba.

Dan sampai ajalku menjemput. Selama itu, aku ingin terus belajar. Semoga tiada lelah untuk berproses. Semoga semuanya dipermudah. Aamiin.

Mulailah dari diri sendiri..

Kita kerap menyalahkan apa-apa yang kita anggap salah. Dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Tanpa kita mau melihat diri kita sendiri.

Akan selalu ada masalah dalam setiap lini kehidupan. Dimana kita bergaul, baik di lingkungan sosial yang kita tempati ataupun di lingkungan keluarga yang kita punya.

Kita tau, sebuah masalah akan selesai jika kita mau mencari solusinya. Menemukan cara terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Tapi kesadaran diri masing-masing individu ternyata tak sama. Meski dalam lingkup kerja yang sama, nyatanya tidak semuanya memiliki kesadaran diri yang sama.

Meskipun setiap orang punya tugas dan kewajiban yang berbeda. Mestinya keutuhan dan kebersamaan tetap terjaga. Agar semua bisa berjalan dengan lancar.

Selain dari kewajiban yang diemban masing-masing individu, ada kewajiban yang menjadi tanggung jawab bersama. Dimana semua orang berhak dan juga berkewajiban untuk melaksanakan tugas tersebut .

Ini menjadi salah satu penyebab munculnya sebuah masalah. Parahnya saat masalah itu benar-benar terjadi. Semua hanya saling menyalahkan. Hingga lupa memikirkan bagaimana penyelesaiannya.

Mau sampai kapan? Jika kita tidak mau sadar dan mengalah. Jika saja kita punya rasa tanggung jawab yang tinggi. Kita tak akan serta merta menyalahkan orang lain. Kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Tanpa banyak kata. Demi kebaikan bersama.

Mulailah dari diri sendiri. Terus koreksi diri. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan. Selebihnya, biarkan terjadi sebagaimana mestinya.