Hal yang tidak bisa kita ubah adalah hal yang sudah terjadi. Suka atau tidak suka tak akan mungkin bisa di ulang , dihapus kemudian diperbaiki. Semua yang telah terjadi sudah menjadi bagian dari takdir yang tertulis dalam buku, dimana tinta yang digunakan untuk menulisnya tidak bisa dihapus dengan apapun.
Aku termasuk orang yang mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku adalah takdir yang Allah tetapkan untukku. Tentang orang-orang yang aku temui di jalan. Tentang orang-orang yang tiba-tiba menghubungi setelah sekian lama tak ada kabar. Tentang orang-orang yang pergi tanpa pamit. Tentang kejadian-kejadian yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Dan masih banyak yang lainnya. Semua itu kuyakini terjadi atas izin dari_Nya.
Sudah cukup lama dan cukup banyak hal yang terjadi dalam diriku. Tentang asa dan prinsip yang berubah mengalir seperti air. Dari semenjak dia datang dan membuatku terjebak dengan angan dan khayalan. Sampai sekarang aku merasa lebih baik dengan terus berusaha mengikhlaskannya. Dia datang tanpa permisi pergipun tanpa pamit. Itu adalah kebiasaannya.
Entah mengapa aku masih ingin menceritakan tentang dia, meski hanya dalam dunia maya dan dalam bentuk tulisan. Tak bisa kupungkiri , kadang hatiku masih ingin melihatnya, masih penasaran tentang dia. Rasanya ada hal yang harus diselesaikan dengan dia. Ada serpihan hatiku yang harus kubuang jauh-jauh. Perasaan yang terpendam selama ini tak begitu saja hilang secepat dia pergi tanpa kabar. Sudah berulang kali dia lakukan itu, tapi bodohnya aku masih saja luluh saat ia datang.
Sebenarnya dia hanya membuatku gelisah tak menentu, hidupku bukannya lebih baik tapi dipenuhi dengan kecurigaan dan keraguan tentangnya. Aku belum bisa memberi kepercayaan atau percaya padanya sepenuh hati. Pikirku selalu mengelak apa yang dirasakan hati. Pikirku tak pernah setuju jika aku memberinya kepastian atau sekedar berkata jujur atas apa yang aku rasakan sebenarnya.
Sampai akhirnya aku mendengar kabar tentang dia dan kekasihnya. Tak lama sebelum itu, komunikasi kita sudah terputus. Story WA sudah tak pernah muncul lagi. Ia pun tak pernah chat aku sekalipun. Naasnya, percakapan kita yang terakhir benar-benar membuat hatiku tak karuan. Pikirku sudah melayang jauh. Ada harapan dan hampir pada sebuah kepastian yang dia berikan padaku. Tapi lagi-lagi aku yang terjebak. Ia sempat bertanya dan mengajak untuk menikah, seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya. Saat itu, aku benar-benar belum siap untuk menikah. Tapi aku gundah. Mungkin baper karena melihat teman-teman banyak yang menikah. Dan lumayan banyak aku menghadiri pesta pernikahan mereka. Terlebih ada beberapa orang yang datang tak dikenal juga menanyakan hal serupa. Ketika itu, pikiranku masih dipenuhi dengan berbagai persiapan pernikahan, seperti materi dan mental. Dari segi semua itu aku benar-benar merasa belum siap sama sekali. Aku mengatakan semua ini dengan jujur kepadanya. Entah apa yang dia pikirkan. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya.
Itu adalah obrolan terakhir kami sebelum dia pergi. Tak lama kemudian, akhirnya aku mendengar jawaban yang selama ini menjadi pertanyaan dalam benakku. Pertanyaan apakah dia punya pacar? Mungkin ini yang dinamakan takdir, cara Allah menunjukkan sesuatu di waktu yang tepat. Aku tau akhirnya bahwa dia punya pacar, dia juga memiliki hobi yang sama dengannya. Mereka hendak merencanakan kegiatan bersama. Sebenarnya aku juga diajak olehnya tapi aku tolak dengan alasan hari itu bukan hari libur.
Setelah itu, perlahan hatiku mulai tenang dan menerima keadaan dan perasaan. Aku mulai menyadari bahwa aku memang sudah terlalu jauh berandai-andai tentangnya. Menyangka dia adalah jodohku, dan merasa bahwa hanya dia yang akan jadi jodohku nantinya. Aku tidak bisa menilai dengan tolok ukur itu. Sejak saat itu, hati dan pikiranku sudah bukan dia lagi. Waktuku kugunakan untuk kegiatan positif. Aku ikhlas, rela, tapi serasa masih ada dendam dalam hati. Aku butuh kejelasan, tapi sebenarnya tak ada yang perlu dijelaskan. Aku ingin memarahinya tapi dia bukan siapa-siapa.
Dan beberapa waktu yang lalu, ibuku memberitahuku bahwa aku mau dijodohkan dengan seseorang yang belum aku kenal. Orang itu minta dicarikan istri kepada seseorang. Lalu orang itu menawarkan aku untuk menikah dengannya. Setelah ibuku menceritakan sedikit latar belakangnya, aku menangkap harap dari perkataannya. Dengan kata lain, ibuku menyetujui jika aku mau menerimanya. Walaupun saat itu hatiku sudah membaik, tapi jawabanku masih sama. Aku belum mau menikah, aku mau fokus dulu dengan kuliahku. kurang lebih 1 tahun lagi.
Akhirnya ibuku bilang agar aku segera memberi kepastian. Kata ibuku nomorku sudah diberikan padanya agar kita bisa kenal satu sama lain. Begitupun aku diberi nomornya. Tapi sampai saat ini belum juga ada kabar darinya. Entah apa dan kenapa , aku tidak bisa menebaknya. Dan aku juga tidak mau bertanya atau mendahului untuk menghubunginya.
Bukannya aku setuju, tapi aku berusaha untuk lebih membuka diri. Membuka hati untuk orang lain. Aku sedang berusaha menata hati dan niatku untuk menikah. Karena aku ingin menikah dengan niat beribadah kepada Allah. Bukan karena alasan lain. Bukan karena umur dan lain-lainnya. Dan dengan semua yang terjadi ini, aku berpikir dan semakin percaya bahwa Allah pasti akan berikan aku jodoh terbaik. Pada waktu yang tepat dan dengan cara yang indah. Entah dengan alur cerita yang sama atau berbeda dengan orang lain. Entah kapan waktu itu tiba. Aku yakin jika Allah sudah berkehendak, semua akan mudah dan menjadi mungkin.
Dengan berharap cinta yang suci tak ternodai, aku berlindung dan berserah padaNya. Akan jodoh yang Ia siapkan untukku. Jika memang Allah takdirkan, aku yakin Allah akan dekatkan. Dua hati untuk saling terpaut, mencinta karenaNya. Dengan orang yang pernah ada dalam hatiku atau dengan orang baru yang belum kukenal. Entah dengan orang yang jauh atau orang yang dekat, aku percaya dan aku ingin ikhlas , ridho dengan segala takdir yang Ia tetapkan atas diriku.
Bismillah, terus belajar.. perbaiki diri terus menerus. Fokus pada diri sendiri, dengan hal-hal yang baik dan positif. Lakukan semaksimal mungkin. Serahkan semua padaNya.
Lahaula wala quwwata ila billah…