Ada banyak kejadian dalam hidup. Peristiwa yang tidak bisa dihindari. Dan akibat yang tak mungkin bisa begitu saja untuk kita menutup mata. Lari dari imbasnya. Tidak bisa.
Sudah menjadi hukum alam. Tinggal bagaimana cara kita menghadapinya. Bagaimana kita menanggapinya. Pun dengan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita. Dengan apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. Semua punya konsekuensi. Pro dan kontra adalah kamuflase dari konsekuensi itu sendiri.
Baik. Sebenarnya saya ingin membahas tentang beberapa film dan sinetron yang banyak menuai pro dan kontra bagi masyarakat. Hak setiap orang untuk berpendapat. Hak setiap orang untuk menilai. Bebas. Tidak ada larangan memang. Tapi bukan masalah kebebasannya. Tapi bagaimana kita menanggapi segala pro dan kontra tersebut.
Aku sendiri termasuk orang yang suka hampir semua genre film. Tak terkecuali sinetron, FTV dan drama lainnya. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Apa yang aku pikirkan. Memang, aku sangat tersugesti dengan film. Alur cerita dan skenarionya tak jarang menguras hati dan pikiranku. Sejauh itu dan separah itu. Bahkan emosiku seakan dipenuhi oleh film-film yang aku tonton. Bahagia juga sedihku hanya karena aku terlalu menghayati alur ceritanya. Bayanganku akan cerita itu tidak begitu saja hilang tak berbekas. Semakin terbayang dan semakin aku merasakan apa yang aku lihat di layar televisi itu.
Aku sadar, tidak selamanya hal itu membuat hatiku bahagia. Membuat semua terasa baik. Ada kala aku jenuh dengan alur cerita yang hanya itu-itu saja. Sudah bisa kutebak ending ceritanya bagaimana. Tapi masih saja aku menontonnya. Aku selalu mencoba mencari hal positif yang bisa kuambil dari apa yang aku lihat. Aku berusaha mencerna dengan baik dan menyaring dengan baik apa yang seharusnya aku pahami. Apa yang seharusnya aku ambil pelajarannya.
Tidak selamanya sinetron itu buruk. Nyatanya, aku lebih tersentuh untuk melakukan kebaikan atau menerima kebaikan dan ilmu dari sebuah sinetron dan film. Aku memahami makna dari sebuah kata karena aku menonton sinetron atau film. Dan banyak film dan sinetron yang menjadi motivasi untukku agar menjadi lebih baik lagi.
Dari film , aku tau akibat dari berbuat buruk. Aku tau, bagaimana kita berbuat baik. Aku tau akibat dari berbagai hal yang kita lakukan. Bahwa semua ada resikonya. Aku tidak mengatakan bahwa semua orang pasti juga bisa berpikir dan menerima sinetron dan film dengan baik atau seperti yang aku lakukan. Karena mungkin Allah punya cara istimewa untuk setiap manusia dalam memberikan hidayahNya.
Disini, aku hanya sebagai salah satu yang pro akan sinetron dan film. Bagiku, film memberi pesan halus tanpa menyinggung perasaan. Film turut mempengaruhi emosi dan moodku. Jadi, jika sewaktu hatiku kacau dan badmood , pilihan film yang tepat bisa menjadi pengobat dari perasaan galauku. Bahkan terkadang, dari film itu aku bisa bangkit lagi dan semangat lagi.
Aku ingin menyampaikan pesan dari film dan sinetron dengan baik kepada adik-adikku. Mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari. Meskipun aku tau ada efek negatif yang pasti juga adikku dapatkan. Tapi setidaknya mereka tau, hal yang baik dan buruk dari apa yang mereka lihat dalam cerita.
Pemahaman terhadap isi film atau pesan dari sebuah film tidak semua orang khususnya anak-anak bisa terima dengan baik. Mungkin lebih banyak dari mereka yang justru meniru buruknya tanpa mengambil pelajarannya. Itulah mengapa orangtuanya harus selalu mengawasi anak-anaknya saat menonton film terutama sinetron. Tingkat pemahaman setiap anak berbeda-beda.
Aku hanya berpendapat bahwa dalam keburukan terkadang tersimpan satu kebaikan. Namun kebanyakan orang hanya mau melihat buruknya saja. Sungguh tidak ada yang sempurna di dunia ini. Siapapun boleh berpendapat. Namun alangkah baiknya jika kita bisa bersikap bijak. Bencilah yang patut dibenci. Jika itu sebuah keburukan. Hargai yang pantas untuk dihargai tanpa menjatuhkan orang lain.
Wallohu a’lam bishowab.