Diam dan pendiam itu berbeda. Diam itu pilihan sedangkan pendiam adalah akibat dari perasaan yang kacau. Perasaan yang memenjarakan hati untuk berjarak dengan orang lain.
Aku cukup terlatih untuk diam juga pendiam. Tidak mudah bagiku dekat dan berbicara kepada orang baru apalagi jika aku sudah merasa bahwa tak ada kecocokan diantara kita.
Diam lalu menangis menjadi pilihanku saat aku salah dan dimarahi orang tua. Tak ada yang bisa kulakukan selain itu. Begitupun dengan berbagai perasaan yang pernah singgah dalam hati. Air mata adalah saksi bisu atas apa yang aku rasakan.
Aku selalu berusaha berdamai dengan hatiku. Tanpa protes. Hal-hal yang menyakitiku sebagian kubiarkan menetap di hatiku sebagian yang lain kubiarkan hilang tanpa jejak.
Aku tau tidak selamanya diam itu yang terbaik. Tapi setidaknya mulut tak mesti harus berbohong. Diamkan dengan cara yang bijak.
Karena diam itu emas