Tinta

Bismillahirrohmanirrohiim…

robbisrohli sodri , wayassirli amri, wahlul ‘uqdatam millisani, yafqohu qouli… Lahaula wala quwwara illa billahil aliyyil adzim.

Sebelum aku menulis, aku hanya ingin menyampaikan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Apa yang ada dalam hatiku, apa yang ada dalam otakku, dan apa yang ku harapkan.

Aku tidak tau, akankah ini baik . Akankah tulisan ini bisa membantuku, akankah menjadi manfaat atau musibah di kemudian hari.

Beberapa hari terakhir ini, aku selalu tidur tengah malam. Mataku sayu, terlihat ada lingkaran hitam di sekitar mataku. Dan malam ini, aku harap jadi yang terakhir untukku menahan semua beban dihatiku.

Keinginan hati untuk menulis membuatku semakin tak tenang. Aku merasa ada banyak hal yang harus kutulis dalam bentuk apapun. Sehingga mungkin beban dalam hatiku akan berkurang. Mungkin juga hilang.

Bismillah…

Melepasmu..

Baru saja kemarin aku merakan damai, lega karena mendengar bahwa dirinya sudah ada memiliki. Saat itu, lebih dari separuh kegelisahan yang kurasakan seketika jatuh berderai. Meski tak ku dustai emosiku semakin meronta-ronta. Seakan ingin kumaki- maki di depan mukanya. Seakan ingin kusesalkan semua yang dia lakukan padaku selama ini.

Teganya dia mempermainkanku . Semudah itu dia mengucap kata manis dan memberiku secuil harapan. Aku tau, aku juga salah. Karena aku tak pernah mau mengakui bahwa aku menyimpan rasa padanya. Lama. Cukup lama. Bertahun bahkan hatiku masih saja terpatri hanya padanya seorang.

Meski berkali dia datang dan pergi begitu saja. Namun tetap hatiku tak bisa berpaling darinya. Aku berdoa. Aku berharap. Aku berpasrah dengan segala perasaann yang menguasai hatiku kepada Tuhanku.

Aku tidak meminta dia harus menjadi jodohku. Yang kupinta adalah jika memang dia jodohku , ku mohon agar Tuhan mendekatkan kami dan menyatukan kami karena cintaNya. Dan jika dia bukan jodohku, aku memohon agar segala persaan yang tersisa dan tersimpan dalam hatiku untuknya dihilangkan.

Aku hanya ingin mencintai seseorang yang telah Tuhan pilihkan untukku, yang namanya sudah tertulis di Lauful Mahfudz. Seseorang yang dengannya akan bertambah pula cinta kami kepada Tuhanku.

Perlahan, hatiku luluh. Segala dendam dan amarah yang mengisi ruang hatiku melebur dengan usahaku untuk memaafkan. Tanpa dendam. Tanpa ingin melihatnya merasakan hal yang sama sepertiku.

Aku mencoba membuka pintu hatiku untuk orang baru yang datang. Aku mengizinkan orang lain untuk masuk dan mengenalku. Ya. Usahaku berhasil. Ada beberapa bahkan yang datang padaku.

Meski cara mereka datang hanya melalui perantara media sosial, aku tetap berusaha untuk perlahan menerimanya. Tapi ternyata, aku masih belum siap. Pikiran-pikiran itu muncul lagi dalam kepalaku. Ketakukan dan keraguan itu hadir lagi dalam hatiku.

Meski saat itu aku sudah merasa bahwa aku sudah benar-benar ikhlas melepasnya. Karena aku tengah mencoba membuka hati yang baru. Nyatanya aku belum bisa menerima orang lain. Aku tak bisa mempermainkan mereka.

Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku tidak mau memberi mereka harapan palsu. Mereka punya niat baik dan serius. Tak mungkin kugunakan itu untuk sebuah percobaan atas hatiku ini.

Sedari awal, aku sudah buat banyak alasan untuk tidak meneruskan hubungan itu. Meski hanya berteman. Bukan maksudku sombong. Aku hanya tidak tau bagaimana cara berteman yang baik. Aku merasa bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan selalu mempunyai resiko.

Salah satu diantara mereka bisa jadi menyimpan rasa. Sedang yang lainnya hanya menganggapnya teman biasa. Sungguh aku tak mau menyakiti siapapun. Aku pun tak ingin memberikan harapan yang aku sendiri tak bisa menjanjikannya.

Dan setelah itu, entah bagaimana hatiku kembali merindu. Merindu dia yang berkali menyakiti. Merindu dia yang berkali mempermainkanku. Mungkin selama ini , dia hanya jadikanku pelampiasan saat sedang ada masalah dengan kekasihnya. Mungkin selama ini , aku hanya dijadikan hiburan di waktu luangnya.

Dan berbagai kemungkinan lain yang bisa ku duga. Tapi bodohnya aku masih saja menutup mataku dari semua dugaan itu. Aku masih saja, menutup telinga dan hatiku hingga aku merasa semua itu hanya ujian.

Ujian cinta. Yang sebenarnya semua belum pasti. Ya Allah, Ya Tuhanku. Tolong hamba lemah ini untuk melepasnya. Mengikhlaskannya dengan yang lain jika memang dia bukanlah jodohku. Karena aku percaya bahwa Engkau lebih tau dan sudah siapkan jodoh terbaikku. Meski saat ini aku belum bertemu dengannya.

Tepislah rindu yang masih bersarang di hatiku ini. Keinginanku untuk bertemu dengannya. Dan harapanku agar dia kembali menghubungiku. Datang kembali kepadaku.

Aku tidak tau bagaimana caranya membuang pikiran dan perasaan ini untuknya. Berkali kucoba, berulang kuberusaha. Masih saja aku menahannya. Aku yang menahannya. Ya Allah , tolong hambaMu ini. Wahai dzat yang membolak balikkan hati manusia.

Aku tidak ingin menyimpan duri dalam hatiku. Berilusi dan terus menerus menaruh harap padanya. Karena tak seharusnya kulakukan ini. Tak seharusnya aku mengharapkan dia datang dan memberi kepastian.

Aku harus melepasnya dengan ikhlas. Karena Allah , Tuhanku.

Astaghfirulloh..

Maafkan hambaMu yang lemah ini ya Allah. Tolong tunjukkan jalan kebaikan untukku. Ikhlaskanlah hati ini untuk benar-benar melepasnya.

Pupuskanlah angan dan imajinasiku tentangnya. Hapuskanlah segala perasaan yang tersisa dalam hatiku. Hancurkan segala keraguan dan kegelisahan yang menyelimuti hati. Agar hatiku tenang. Agar hatiku senantiasa dipenuhi dengan kecintaan kepadaMu.

Aku ingin belajar karenaMu. Bukan karena apapun. Aku ingin memperbaiki diri karena Allah. Dan doaku masih tetap sama. KarenaNya. Ya Allah.. Jagakan hati ini untuk selalu mencintaMu.

Dan yang pasti melepasnya dengan ikhlas. Legowo. Bismillah..

Menelusuri Cinta

Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin kutulis, beberapa minggu terakhir ini ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak rasa yang kunikmati. Tapi lagi-lagi aku belum bisa konsisten dalam menulis. Sampai akhirnya semua cerita dan perasaan yang ada melebur bersama dengan waktu yang terus berlalu.

Salah satu hal yang terjadi adalah tentang takdir dan cinta. Aku tidak menyangka sama sekali, beberapa hari yang lalu ibuku mengatakan bahwa aku ditawari untuk dijodohkan dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya. Awalnya mereka ragu dengan penawaran itu, tapi di hari berikutnya ibuku mengatakan hal yang menyiratkan bahwa beliau setuju jika aku mau menerima tawaran itu.

Aku masih saja tak menyangka, tapi sekaligus membuatku sadar bahwa umurku memang sudah bukan remaja lagi. Sudah sewajarnya perempuan seusiaku menikah. Akupun sempat gelisah dengan perasaan yang muncul karena pikiran-pikiran yang kuterka sendiri. Dan akhirnya aku putuskan satu hal untuk kuselesaikan.

Sedari awal ibuku mengatakan hal itu, tanpa ragu aku menjawab ” Tidak ma, aku mau fokus kuliah dulu. ngrampungna kuliah sit”. Meskipun aku sreg dengan orang tersebut, aku tetap ingin fokus dengan kuliahku dulu. Lalu , esoknya kembali kutanyakan perihal itu pada ibuku. Lalu beliau bercerita tentang dia. Dari informasi yang ibuku dapatkan, dia adalah anak terakhir. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya sudah menikah lagi. Ia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya sudah menikah dan punya rumah sendiri. Diapun katanya sudah mempunyai rumah sendiri. Tapi dia masih berada di rauntauan. Ibuku berpesan jika memang aku mau maka aku harus menerima perjodohan itu. Ibuku tidak memaksaku sama sekali. Beliau memberikan kebebasan untukku.

Percaya diri..

Salah satu hal yang paling penting dalam mencapai kesuksesan adalah percaya diri. Tapi adakalanya seseorang kehilangan kepercayaan diri. Sehingga membuat dirinya sulit untuk maju. Sulit untuk berkembang. Sulit untuk bangkit lagi, semangat lagi. Beberapa cara telah ditempuh untuk mengatasi ketidakpercayaan diri itu, tapi tak selalu semuanya berhasil dengan baik.

Percaya pada diri sendiri. Kemampuan diri yang seringkali kita batasi sendiri. Energi positif harus selalu terjaga dalam hati.

Bismillah. Aku sedang tidak bisa berkata-kata. Saat ini aku sedang berharap dengan harapan terbaik. Doa terbaik. Dan yakin di setiap langkahku dengan penuh semangat.

Aku yakin aku bisa. Aku yakin aku akan mampu menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawabku dengan baik. Aku berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa. Dan aku yakin Allah akan tunjukkan jalan terbaik pada akhirnya. Apapun, bagaimanapun dan kapanpun.

Bismillah..

🙂 🙂 🙂

Peluh dan Kasih Ibu

Spechless aku dibuatnya. Allah tunjukan padaku dan pertemukan aku dengan orang-orang yang sangat menyayangi dan mengagungkan ibunya. Bagi mereka nomor satu adalah ibu. Kebahagiannya adalah saat melihat ibunya bahagia.

Sikap dan perlakuan mereka membuatku semakin tertunduk malu. Aku merasa bahwa akulah anak yang durhaka itu. Terutama sekarang, dalam doa aku memang tak pernah alfa untuk mendoakan mereka. tapi hatiku sebenarnya kosong. Semua itu hanya terucap di bibir saja.

Aku bahkan lupa dulu betapa aku ingin membuat mereka bahagia dan selalu memohon untuk keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Tangis air mata kutumpah ruahkan di atas sajadah untuk mereka. Berharap aku bisa memberi kemudahan dan jalan menuju surga bagi mereka. Bahkan jika aku harus bertukar posisi misalnya.

Ibu..

Bagaimanapun, aku tau kasihmu terhadapku tak akan ada yang menyaingi di dunia ini. Segalanya kau curahkan untukku. Aku seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Aku sekarang. Saat ini seperti ini dan di posisi ini adalah karena doa yang beliau panjatkan. Atas ridhoNya.

Aku tidak tau sekarang bagaimana caraku membuat mereka bahagia. Terlebih saat ini aku disibukkan dengan berbagai aktivitas rutinku. Jarang sekali waktu ku untuk di rumah dan bisa membantu Ibu. Aku tidak berbuat apa-apa untuk beliau.

Sudah terlalu sering aku membuat hati ibuku terluka. Bahkan sampai menangis. Aku bukanlah anak yang baik. Aku selalu membuatnya marah. Aku belum bisa menjadi seperti yang beliau mau. Apalagi membuatnya bahagia.

Ibu..

adalah sosok yang sangat hebat. Beliau tidak pernah mengeluh. Meskipun rasa sakit dan lelah menyerang seluruh sendi di bagian tubuhnya. Beliau tidak pernah mengatakan keluhan atau membiarkan satu pekerjakan terabaikan.

Dan d usiaku yang sudah semakin banyak ini, aku belum bisa membuatnya bahagia atau memberikan sesuatu yang berharga untuk beliau. Aku tidak ingin mengecewakan mereka dan merepotkan mereka. Aku tidak ingin mereka khawatir tentang aku.

Karena merekalah aku kuat. Karena merekalah aku bisa,

Ya Allah, sentuhlah hatiku dengan kasih sayang dan cinta kepada Ibu dan ayahku. Jadikan mereka orang yang pertama yang aku sayang dan cintai. Yang selalu kuutamakan. Sebelum surgaku berpindah kepada orang asing yang belum kukenal.

Ya allah aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka.. Aku ingin menyayangi mereka sepenuh hati. Aku tidak tau apa yang mereka inginkan dariku. Aku hanya belum bisa berikan apapun untuk mereka.

Maaf..

Bahkan untuk mengucapkan kata itu rasanya berat sekalii. Maaf ibu , maaf ayah. Maafkan anakmu ini yang belum bisa apa-apa. Setiap langkah yang kuayunkan selama ini selalu dipermudah karena doa kalian. Ya Allah , tolong jagalah Ibu dan bapakku.. berikan mereka kesehatan dan umur yang panjang. Aku ingin merekka melihatku menikah.

Ya Allah.. ampuni hamba ya Allah

astaghfirullohal adzim..

Belajar membuka hati

Dalam beberapa tulisan sebelumnya, sudah cukup aku utarakan perjalanan asmaraku yang berakhir dengan sepihak. Aku tidak tau, apakah ini pantas untuk disebut kisah cinta. Karena kenyataannya hanya aku saja yang merasakannya. Bukan perasaan yang dirasakan oleh dua orang yang berpasangan. Bahkan untuk menjalin komitmen pun tak ada sama sekali.

Aku tak sebegitu mudahnya berpaling kepada orang lain. Selama ini aku setia pada satu hati yang meskipun belum jelas hubungannya. Cukup lama. Bertahun-tahun perasaan ini ku simpan, ku jaga, ku coba lepas. Sampai kini. Jika saja aku boleh jujur. Masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku tentang dia. Entah apa, entah mengapa. Aku harap ini bukanlah perasaan cinta. Aku harap ini adalah bagian dari proses untuk mengikhlaskan. Cukup sesak di dada kurasakan namun aku berusaha untuk menepisnya.

Setelah kuputuskan untuk ikhlas melepasnya. Hatiku cukup lega, 80 % hatiku terisi dengan kedamaian dan ketenangan. Tak lagi gelisah memikirkannya. Tak lagi melulu wajahnya yang ada dalam pelupuk mataku juga ruang imanjinasiku.

Beberapa waktu kemudian , hadir seseorang atau mungkin beberapa orang yang mendekatiku. Meski hanya lewat sosmed tapi aku rasa dia orang yang baik dan berniat baik. Dia ingin serius mencari pasangan hidup. Dan entah dia bercanda atau tidak , dia mengajakku dan berusaha menggodaku. Yaa..

Hubungan kami baik, kami masih saling mengenal. Meskipun begitu, aku tidak tahu mengapa hatiku kembali ragu. Saat ini aku sedang berusaha untuk membuka hati untuk orang lain. Untuk siapapun yang datang kepadaku. Tapi lagi-lagi perasaan tak siap kembali menghantuiku. Mengelabui hati dan pikiranku.

Aku merasa bahwa aku masih harus banyak belajar untuk mempersiapkan mental. Dan meluruskan niatku untuk menjalankan ibadah terpanjang itu. Aku harus banyak membaca dan memohon hidayahNya agar hatiku diberikan kekuatan, petunjuk, keyakinan untuk mengambil keputusan.

Untuk menerima, untuk siap belajar. Untuk menurunkan ego. Bagaimanapun aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku tak ingin memberikan harapan palsu padanya. Apalagi jika dia benar-benar punya niat baik.

Selain itu, saat ini aku juga sudah mulai fokus dengan perkuliahan. Minggu ini, tugas sudah menumpuk. Mau tidak mau aku harus bisa mengatur waktu dan menyelesaikannya tepat waktu. Aku berharap bisa melakukan semua tugas dan tanggung jawabku dengan baik. Lancar.

Sembari itu semua, semoga aku bisa menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan siapapun. Alhamdulillah, hubungan kami, aku dan sahabatku kian membaik. Kita sudah kembali berbincang tentang kita. Tentang masalah dan pendapat. Alhamdulillah wa syukurilah.. 🙂

Semoga aku bisa menjaga dan mengontrol emosiku.. aamiin

Laa haula wala quwwata ila billah…

Ketika kehilangan semangat

Lagi-lagi kuulangi kesalahan yang sama, yaitu menyia-nyiakan waktu yang ada. Padahal banyak sekali hal yang bisa kulakukan. Ada banyak tugas yang sudah menunggu. Tidak bisa dipungkiri manajemen waktu sangatlah penting agar semua kegiatan dan tugas dapat berjalan dengan lancar.

Memulai sesuatu yang tidak kita sukai memang terasa berat. Tapi tetap harus kita paksa untuk bisa.

Kadang perasaan tak selalu berpihak pada kita. Hati bersifat dinamis. Hati manusia sangat mudah untuk berubah. Manusia bukanlah malaikat. Manusia punya berbagai rasa yang Allah titipkan dalam hati. Setiap waktu, setiap saat bisa saja berubah.

Dan ketika salah satu perasaan yang sangat penting tiba-tiba hilang, maka rasanya semua tak berarti. Perasaan itu adalah semangat. Semangat yang membara dalam hati. Semangat yang selalu mendorong diri untuk terus berjalan dan berlari.

Tanpa adanya semangat dalam diri, hidup ini seakan hampa. Berjalan pun tanpa arah. Motivasi dan harapan hilang seketika. Entah tersesat dimana. Entah kemana mereka pergi tanpa meninggalkan jejak.

Saat hal itu terjadi, kita hanya punya dua pilihan. Menyerah atau bangkit. Meski tanpa orang-orang yang kita sayang. Meski tanpa ada orang lain yang membantu. Kita tidak bisa terus menerus berada dalam situasi seperti ini. Tidak enak rasanya. Capek.

Satu-satunya cara agar kita bisa bangkit adalah dengan bergerak, melakukan segala sesuatu apapun itu untuk mengisi waktu. Hingga tak tersisa sedikitpun waktu untuk melamun. Hati, pikiran dan raga ini harus dipaksa untuk berpikir, merasa dan bergerak meski berat.

Hanya itu. Berhenti menyalahkan keadaan. Berhenti menyalahkan orang lain atas apa yang kamu rasakan saat ini. Hatimu kamu sendiri yang kendalikan. Jadi kamu yang harus menguasainya. Jangan biarkan syetan bersarang terlalu lama dalam hati. Jangan biarkan kesedihan dan keputusasaan mendekam terlalu lama dalam hati. Istighfar.

Iya. Istighfarlah sebanyak-banyaknya. Mungkin apa yang kita rasakan saat ini adalah salahsatu akibat dari dosa yang pernah kita buat sebelumnya. Tanpa kita sadari.

Astaghirullohal adzim..

Ayo bangkit.. Ayo semangat wahai diri..

Mohon pada Allah agar selalu diberikan kekuatan, kesadaran dan rasa syukur de setiap waktu dan setiap keadaan.

Jangan biasakan diri bergantung pada orang lain. Jangan paksakan orang lain untuk memahami kita. Jangan salahkan mereka yang tak mengerti kita. Tapi jangan berhenti untuk tetap menyayangi dan mendoakan mereka.

Ya Allah, berikan hambaMu ini hati yang kuat dan tegar.. Hati yang lembut dan penyayang. Hati yang dijauhkan dari kesombongan, kebencian, kedengkian kepada orang lain. Lapangkan hati ini untuk selalu memaafkan siapapun yang pernah menyakiti hati ini Ya Allah..

Hanya kepadaMu aku memohon. Hanya padaMu aku berharap. Aku menyayangi mereka dan aku percaya mereka juga menyayangiku. Tapi aku tau, hanya Engkau yang paling menyayangiku. Terimakasih Ya Allah atas hidup yang dan kehidupan yang Kau berikan padaku. Hanya kepadaMu aku kembali ya Allah…

Jangan marah..

Mungkin ada marah yang diperbolehkan. Tapi kebanyakan amarah tidak akan berdampak baik. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena amarah datangnya dari syetan. Amarah menumpulkan hati dan menutup akal sehat. Tidak ada dampak positif yang didapat. Bagi sebagian wanita, marah adalah cara mereka melampiaskan segala unek-unek yang memenuhi hatinya. Itu cara mereka melepas sebagian bebannya.

Ketidaknyamanan, ketidaksetujuaan yang akhirnya bisa menimbulkan kemarahan. Menjadi bijak, untuk tidak terlihat marah saja butuh latihan terus menerus apalagi untuk benar-benar bisa menahan amarah dalam keadaan apapun. benar memang, orang yang paling kuat di dunia ini adalah orang yang tidak pernah marah.

introspeksi diri. Banyak sekali hal-hal yang harus diperbaiki. Banyak sekali kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri ini. Sudahlah. Lepaskan. Ikhlaskan. Apapun yang menjadi beban dalam hati, yang mengusik hati. Hal-hal yang datangnya dari luar. Bila belum mampu mendoakan, tahanlah agar tidak marah. Untuk tidak berkata yang tidak baik. Hal yang membuat hati sakit atau tersinggung, lupakan dan hancurkanlah bibit-bibit penyakit hati itu. Jangan ceritakan pada siapapun. Jadikan pelajaran untuk diri kita sendiri. Agar selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ambilah untuk kebaikan diri sendiri. Semoga perlahan hati lekas memaafkan dengan ikhlas. Astaghfirulloh

Latihlah hati untuk terus berprasangka baik, berpikir positif dan berkata hal-hal yang baik.

Bismillah…

Masih memeluk sepi

Sudah hampir sepekan berlalu, tapi aku masih saja belum melakukan apapun. Melakukan apapun yang kuharap bisa memperbaiki suasana hatiku saat ini. Bukannya membaik, perasaan ini justru semakin mencekam hatiku. Seperti aku berjalan di lorong sepi.. semakin jauh dan semakin dalam rasa sepi itu merengkuh hatiku. Aku takut hatiku beku, hatiku keras seperti batu dan dingin melebihi balok es.

Sekilas, alhamdulillah aku masih bisa menjalankan dan menyelesaikan tugas dan pekerjaanku dengan baik. Dengan bekerja, melakukan kegiatan apapun adalah obat dari penyakit hati ini. Tapi tak bisa kupungkiri, hatiku memang tak sedang baik-baik saja. Orang yang mengenalku seharusnya tau dengan keadaanku saat ini. Namun aku tidak boleh mengharapkan orang lain untuk mengerti. Aku tidak bisa meminta apalagi memaksa mereka untuk paham. Semua itu hanya sia-sia.

Salah satu sifat burukku adalah aku yang terlalu egois, mengharap orang lain selalu mengerti aku. Aku yang terlalu egois untuk mengawali segala sesuatu. Aku hanya menerima, aku tidak mau berusaha. Aku tak pernah mau memberi. Aku yang selalu mengelak dari segala perasaan yang kurasa, aku yang ingin tapi tak mau melakukan. Iya. Aku hanya bisa memendam dan menanggung semua perasaan yang muncul ini sendiri.

Sedari kecil, aku sudah terbiasa berteman dengan sepi. Angin yang bertiup membelai wajahku , perlahan merasuk ke dalam hatiku membawa sedikit kesejukan di ruang sempit dalam hatiku. Langit yang kelabu berhias bintang adalah sahabat terbaik, mereka selalu bisa membuatku tersenyum. Meski hanya senyum simpul. Merekalah yang selalu setia, menyaksikan setiap keresahan yang dirasakan hati. Bulan terkadang menemani, menambah indah dunia malam yang gelap. Membawa terang bagi langit yang kelam. Ia juga selalu kupandang, sesekali aku bertanya. Sesekali aku bergumam. Dalam hati, meski dalam hati aku selalu percaya bahwa alam turut merasakan apa yang kurasakan. Mereka adalah saksi di setiap detikku mengadu. Merintih dalam hati dengan lirih.

Hingga suatu hari, Allah hadirkan malaikat-malaikat terbaik untukku. Hidupku lebih berwarna. Bahkan penuh warna. Sahabat, teman, saudara. Mereka sangat berarti untukku. Merekalah yang mewarnai hari-hariku. Saat itu, aku tak pernah merasa kesepian lagi. Sifatku tetap sama dari dulu. Aku tidak pernah memulai lebih dulu. Mereka yang selalu mengawali, mereka yang mengajakku, membawaku untuk mencoba hal-hal baru. Turut menasihati dalam kebaikan. Mereka yang menerimaku dan akhirnya kami semakin dekat. Satu sama lain saling bertukar cerita. Semua baik-baik saja. Sejak bersama mereka, aku sudah tidak lagi berbicara dengan langit, bulan dan bintang. Semua perasaan yang dulu selalu kusimpan rapi dalam hati kecilku, hingga berjuta rasa dan kata yang terlukis cukup memenuhi hatiku. Akhirnya bisa kuceritakan dengan mereka. Hingga tak ada sedikitpun yang tersisa dalam hati. Mereka sangat baik, Dan sekarang aku tau, aku rindu..

Tapi kini rasanya semua beda, tak lagi sama seperti dulu. Jarak dan kesibukan kami menjadikan kami jarang untuk saling bersua. Dan…. yang bisa kulakukan saat ini hanyalah berdoa. Semoga mereka selalu dalam keadaan baik, selalu dikelilingi dengan rahmatNya, semoga mereka selalu bahagia. Dan berharap salamku untuk mereka Allah sampaikan.

Alhamdulillah.. hatiku sedikit lega, la tahzan.. inalloha ma’ana.

Beku

Sebenarnya aku sendiri bingung mau menamakan apa situasi dan perasaan ini. Pikiranku sedang tertutup, tidak bisa memikirkan apapun seperti biasanya. Pendek. Tidak ada ide atau motivasi. Lebih parahnya lagi , suasana kantor juga dingin. Tak ada suara, hening yang mencekik. Beku. Kaku. Masing-masing memasang muka datar , sebagian lagi serius. Semuanya acuh tak peduli. Semuanya punya kepentingan yang berbeda. Aneh. Seakan tak ada satupun topik untuk dijadikan sebagai bahan lelucon.

Sedangkan aku, seperti biasa. Aku menjadi pendiam setia. Meski sebenarnya aku bukan pendiam lagi saat aku merasa situasi sudah menerimaku begitu juga dengan orang-orang disekelilingku. Jika aku sudah merasa nyaman maka secara spontan aku bisa menunjukkan karakter asliku. Aku yang juga suka ikut cekikikan dan terkadang tertawa lepas tanpa sadar. Tapi intesitas tertawaku belum memenuhi syarat untuk disebut humoris. Bahkan aku sama sekali tidak bisa membuat lelucon. Hampir semua yang aku katakan adalah hal yang serius.

Okay. Kembali ke bahasan awal. Kata beku adalah kata yang kupilih untuk menerjemahkan keadaan sekaligus perasaanku saat ini. Perasaan tak jauh beda dengan keadaan yang ada, feel itu hilang seketika. Mood hancur. Datar. Semua biasa saja. Aku hanya berjalan namun tak tau arah. Aku hanya berjalan tanpa menoleh kanan kiri dan seolah tak peduli dengan apapun yang kulewati. Aku masih tidak tau. Tapi aku harus segera menemukan solusinya. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini.

Harapan , impian dan cita-cita yang sedari dulu terpatri dalam hati tidak boleh begitu saja hilang dalam hati dan pikiranku. Aku tidak bisa membiarkannya hancur karena aku yang putus asa tak mau berusaha. Mungkin aku harus melakukan semuanya dengan disiplin. Meskipun aku belum mendapat hidayahNya. Aku harus memaksakan diriku dulu untuk bangkit, bergerak dan bermanfaat. Semoga niat yang tulus turut serta mengiringi langkah kakiku dan apapun yang kulakukan.

Astaghfirullohal adzim..

Laa ilaha ila anta subhanaka inikuntu minadzolimiin……..