Sudah sedari dulu, perasaanku terperangkap oleh bayangannya. Dan sampai saat ini, ternyata rasa itu belum benar-benar hilang. Seperti luka yang membekas. Bekas dari luka itu tak bisa hilang sempurna. Bahkan bekas luka itu masih bisa tumbuh menjadi luka kembali. Ini masalahku. Yang hanya mampu kuceritakan pada sahabat-sahabatku. Ini perasaanku. Yang hanya mampu kurasakan sendiri tanpa berbuat sesuatu. Aku bosan. Lebih tepatnya lelah. Mengharapkan sesuatu yang aku sendiri tak mampu untuk berjuang menggapainya. Semua itu karena aku tak mau melakukannya.
Aku hanya mengenalnya dengan berbagai asumsiku padanya. Tak banyak yang kutau tentang dia. Yang sebenar-benarnya dia. Kadang hatiku dibuat galau karenanya. Anganku terlalu jauh membayangkannya. Menerka-nerka tentang kita dalam bayangan semu. Bagaimana jika aku dengannya. Orang-orang disekitarnya. Dan semua hal yang kuingin lakukan bersamanya. Tanpa kusadari aku telah terjerumus oleh angan-angan yang kubuat sendiri.
Aku selalu berpikir, apakah dia memikirkanku. Apa dia benar-benar tertarik padaku. Apa ada satu ucapannya yang bisa kupercaya. Semua pertanyaan-pertanyaan yang mencegahku untuk terlalu percaya padanya. Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya membuat hatiku lelah. Aku tidak tau kapan dia berkata jujur. Kapan saat dia berbohong.
Yang ada dalam pikiranku bahwa dia selalu melakukan hal yang sama kepada wanita lain. Dia semudah itu mengucapkan kata. Dan ya, aku tau bahwa sebenarnya dia melakukan hal yang sama kepada wanita lain. Dia temanku. Bodohnya aku. Harapan untuk bersamanya masih saja tersisa dalam hati kecilku. Meski bibirku bisa berdusta akan hal itu.
Aku tidak tau apakah dia benar-benar baik. Apakah dia yang terbaik untukku. Sedangkan yang kita lakukan selama ini hanya berdebat. Hampir tak ada yang sejalan. Bagaimana nantinya jika kita bersama. Apakah kita bisa berjalan bersama mengarungi kehidupan ini. Menjalani bahtera rumah tangga. Menggapai Sakinah mawadah warohmah. Akankah kita bisa saling menghargai satu sama lain? Apakah kita bisa mengalah satu sama lain? Dan hatiku ragu akan hal itu.
Namun semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku tidak benar-benar tau bagaimana sifat dan sikapnya. Kebiasannya selain daripada hobinya. Aku tidak bisa menebak siapa yang benar-benar dia cintai. Sosok seperti apa yang dia harapkan. Aku tidak tau itu.
Sebenarnya aku juga tidak tau dengan perasaanku ini, apa ini yang namanya cinta? Apakah tak bisa hatiku berpindah ke lain hati? Mengapa selama ini tak ada yang mengisi hatiku dan menggantikannya. Kosong. Tidak ada yang benar-benar spesial. Hatiku bahagia saat melihat adegan sinetron atau film yang sedang saling jatuh cinta. Hatiku pun turut hancur saat aku melihat adegan film yang sedang putus cinta atau mengalami rintangan dalam percintaannya. Hanya itu yang mampu kurasakan dan belum pernah kurasakan dalam kisah nyata hidupku.
Jika yang kurasakan ini adalah fitrah dari Sang Maha Cinta. Aku hanya ingin menjaganya. Bukan untuk dia. Tapi untuk menjaga hatiku sendiri dari segala perbuatan yang mungkin bisa kulakukan atas nama cinta. Aku ingin mencintai seseorang karenaNya. Aku tidak ingin perasaan ini menggantikan cintaku pada Rabbku. Aku tidak ingin bergantung dengan apa yang kurasa saat ini. Karena aku tidak tau akhir ceritaku.
Karena aku telah berani menulis kisahku di dinding dunia maya yang siapa saja bisa melihatnya. Aku harus siap dengan segala resikonya. Siapapun yang membacanya, aku yakin semua karena takdirNya.
Harapku semoga aku tidak salah merasa dan memilih jodohku. hemm bagaimana aku ini. Jodoh itu ditangan Allah. Namaku dan namanya sudah tertulis di Lauful Mahfud. Seharusnya aku tak perlu risaukan itu. Aku tidak bisa menebak dan membayangkan bagaimana cara Allah pertemukan kita nanti. Dengan siapa aku dipertemukan. Dalam keadaan bagaimana kita bertemu. Semua itu adalah teka-teki hidupku yang tak lain adalah rahasiaNya. Yang selalu kupercaya bahwa Ia telah siapkan semuanya dengan indah dan rencanakan yang terbaik untukku.
Entah seseorang yang namanya masih ada dalam hatiku atau seseorang yang belum pernah kujumpai selama ini. Harap dan doaku, aku ingin cintaku tulus hanya untuk imamku. Cinta karenaNya. Cinta halal yang berbuah pahala serta keridhoanNya. Cinta yang apabila kita mencintainya bertambah pula cinta kita kepadaNya.
Aku tidak tau kapan waktu itu akan tiba, saat ini aku hanya ingin pasrah mengikhlaskannya. Aku tidak ingin hatiku bergantung padanya. Dia belum tentu yang terbaik untukku. Dan ketidakpastian itu pasti. Bahwa dia belum tentu jodohku. Astaghfirulloh. Ya Allah, tolong berikan kelapangan untuk hatiku mengikhlaskannya. Tolong penuhi hatiku akan rasa cinta padaMu. Mendekatkan diri kepadaMu. Memantaskan diri untuknya. Fokus menggapai citaku.
Aku selalu berprasangka bahwa dengan kesendirianku, dengan aku jauh darinya adalah cara Allah menjagaku dari cinta yang salah. Adalah caraNya agar aku bisa fokus menggapai cita-cita dan harapanku. Aku percaya dengan janjiNya.
Tapi aku ingin melepas semua beban yang ada dihatiku. Mengikhlaskan dia . Tidak lagi mengharapkannya. Karena perasaan ini sangat menggangguku. Menjadi sumber dari kesedihan dan kegalauanku. Aku belum tau apa maksud dari semua ini. Ya Allah, jangan biarkan perasaan ini menutup hatiku untuk selalu bersyukur kepadaMu akan segala nikmat yang telah kau berikan kepadaku.
Astaghfirullohal adzim…